Bagi yang mengalami kesulitan login
dapat mengirimkan email ke email St. Agnes
Email: Password:
Lupa Password
Artikel
 1 2 > 
Is It Love by Vanessa Baby K. XII Bahasa

Hana adalah seorang mahasiswi di sebuah universitas. Ia merupakan seorang gadis yang ramah dan baik hati. Seringkali ia ceroboh dalam melakukan segala hal. Ia sangat suka menggambar sehingga ia mengambil jurusan yang berhubungan dengan menggambar.

                Di suatu pagi, Hana sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah.

                “Ma, aku berangkat dulu ya!” pamit Hana kepada ibunya.

                “Iya nak, hati-hati!” balas ibunya.

               Di kelas, Hana mendapatkan tugas kelompok untuk membuat sebuah komik. Satu kelompok berisikan dua orang. Mereka diberi waktu selama satu bulan untuk menyelesaikan tugas tersebut. Saat pemilihan anggota kelompok, ada seorang mahasiswa yang sedang mencari kelompok. Mahasiswa itu melihat ke arah Hana yang kebetulan belum memiliki kelompok. Mahasiswa itu pun berjalan ke arah Hana dan berkata apakah Hana mau berkelompok dengannya.

                “Oh, iya boleh.” jawab Hana.

                “Terima kasih.” balas si mahasiswa itu.

                Setelah selesai pelajaran, Hana terduduk di bangku taman belakang kampus. Hana sedang bertelepon dengan ibunya. Saat tengah bertelepon, secara tidak sadar Hana sedang diperhatikan oleh mahasiswa tersebut. Setelah selesai bertelepon, Hana berjalan keluar taman untuk pulang.

                “Halo!” sapa mahasiswa itu kepada Hana.

                “Hai! Kamu mahasiswa yang tadi ingin berkelompok denganku ya?” tanya Hana.

                “Iya, benar.” balas mahasiswa itu.

                “Hmm, besok mau kerja bersama?” tanya mahasiswa itu.

                “Iya boleh, tapi mau kerja di mana?” balas Hana.

                “Bagaimana kalau di Kafe Baby Bong? Kamu tahu?”

                “Iya aku tahu, kebetulan aku ingin sekali mengunjungi kafe itu!”

                “Ok, besok kita kerjanya di sana ya. Jam 2 bisa?”

                “Bisa.” jawab Hana.

                Keesokan harinya, mereka sedang dalam perjalanan masing-masing menuju Kafe Baby Bong. Mahasiswa itu sudah sampai terlebih dahulu di sana. Kira-kira 5 menit setelah sampai di Kafe, datanglah Hana.  Kemudian mereka mulai berkenalan.

                “Hai, maaf ya aku agak telat.” sapa Hana.

                “Nggak kok, aku baru aja sampai.” balas mahasiswa itu.

                “Oh, hehehe.” Jawab Hana.

                “Ngomong-ngomong, kita belum berkenalan sejak pertama kali bertemu.”

                “Oh iya, namaku Hana!” (sambil mengulurkan tangan).

                “Namaku June!” (mengulurkan tangan).

                Lalu June bertanya kepada Hana,

                “Hana, kamu mau pesan minuman apa?”

                “Aku pesan milkshake coklat aja. Kamu mau pesan apa?” jawab Hana.

                “Aku pesan Americano. Sebentar ya, aku pesenin dulu ya.”
                “Iya, makasiih.”

                “June! Ini uangnya.” sambil memberikan uang kepada June.

                “Nggak usah, aku aja yang bayarin.” balas June.

                “Beneran nggak papa?” tanya Hana.

                “Iya Hana, nggak papa” jawab June sambil tersenyum.

                “Terima kasih ya June!” balas Hana.

                “Sama-sama Hana.” jawab  June.

                Sudah sekitar dua jam mereka berdua di kafe itu. Di sana mereka mengerjakan tugasnya sambil berbincang-bincang tentang keseharian mereka. Mereka menjadi lebih mengenal satu sama lain. Tiba-tiba Taeri, sahabat Hana menelpon Hana.

                “Halo?” sambil menjawab telpon.

                “Hana! Kamu di rumah?” tanya Taeri.

                “Nggak Ri, aku lagi di luar.” jawab Hana.

                “Di mana? Ngapain?” tanya Taeri.

                “Aku lagi di kafe, ngerjain tugas kelompok.” jawab Hana.

                “Cie, sama siapa ya.” goda Taeri”

                “Sama temen kampus lah, sama siapa lagi.” balas Hana.

                “Hahaha ok, aku cuman mau ingetin aja kalo novel kamu masih aku pinjem. Kamu kan lupaan orangnya.” jawab Taeri.

                “Oh iya. Hahaha. Ok” balas Hana.

                “Ya udah, lanjut aja kerjanya.” jawab Taeri.

                “Ok, aku lanjut kerja dulu ya.” balas Hana.

                Lalu, June dan Hana melanjutkan pekeerjaan mereka. Setelah mengerjakan, June mengajak Hana untuk menemaninya membelikan kado untuk ibunya. June berpikir bahwa Hana bisa membantu memilihkan kado yang pas untuk ibunya karena ia perempuan. Hana pun mau menemani June untuk membelikan ibunya kado.

                Selama di kafe, secara tidak sadar mereka sedang diperhatikan oleh seseorang. Orang itu bernama Jinyoung. Ia adalah pekerja paruh waktu di Kafe BongBong itu. Jinyoung juga seorang mahasiswa di kampus yang sama dengan Hana dan June, hanya saja ia berbeda jurusan dengan mereka. Jinyoung adalah orang yang ramah, rajin, dan sabar. Jinyoung hanya sekedar kenal dengan June dan Hana. Mereka berkenalan saat di kantin. Hana yang sedang berjalan berdua dengan June, tidak sengaja terjatuh dan menumpahkan minumannya ke pakaian Jinyoung.

                Setelah membelikan kado untuk ibunya, June pun mengantarkan Hana pulang ke rumahnnya. Saat di rumah, June menelepon temannya jika dia menemukan teman yang cantik dan polos. June memang anak yang bisa dibilang nakal dan selalu seenaknya sendiri. Akhirnya ia diberi taruhan untuk mendapatkan hati cewek itu, Hana. Ia harus berpacaran dengan Hana selama satu bulan. Jika June berhasil, ia akan mendapatkan mobil BMW dari temannya itu. Akhirnya June pun menerima taruhan tersebut.  

                Tiga hari kemudian, mereka melanjutkan tugas mereka di kafe yang sama, yaitu Kafe BongBong. June mulai berbicara kepada Hana. Hana sangat terkejut dengan pertanyaan June. Ternyata June bertanya apakah Hana mau menjadi pacarnya. Hana pun bingung menjawabnya. Akhirnya Hana mau menerima June karena ia merasa nyaman bersama June. June pun merasa senang karena ia akan mendapatkan  itu. Akhirnya mereka resmi berpacaran sejak hari itu.

                Tak sengaja, Jinyoung mendengar percakapan mereka. Jinyoung merasa kecewa karena Hana berpacaran dengan June. Jinyoung sebenarnya ingin sekali mengatakan pada Hana bahwa ia sangat menyukai Hana. Tetapi Jinyoung takut jika ia yang bukan apa-apa mengganggu mereka berdua. Ia selalu memikirkan Hana sampai sekarang setelah pertama kali bertemu dengan Hana di kafe. Akhirnya Jinyoung hanya diam memerhatikan mereka berdua.

                Dua Minggu kemudian, June dan Hana mengerjakan tugas mereka untuk terakhir kalinya karena tinggal membuat cover komik saja. Seperti biasa, Hana memesan milkshake Coklat, June memesan Americano. Setelah selesai, mereka membicarakan tentang rencana kencan untuk besok. Saat June sedang ke toilet, tiba-tiba ponselnya berdering. Hana melihat, ternyata teman June yang menelpon. Lalu muncul pesan masuk. Hana tidak menghiraukannya. Lalu ada pesan masuk lagi. Hana pun penasaran dan membukanya. Ternyata dari teman June yang berisi

                ”Hey June!! Gimana hubunganmu sama cewek itu? Namanya siapa? Hana ya? Sabar ya, tinggal dua minggu lagi selesai kok. Pokoknya jangan putus aja sebelum satu bulan. Yang terpenting JANGAN SAMPE KETAHUAN . Cuman mau ngingetin aja, OK.”

                Hana diam sejenak dan tidak percaya dengan apa yang dia baca barusan. Tak lama kemudian, butiran-butiran mutiara yang sangat berharga jatuh di pipi Hana. June yang baru keluar dari toilet, kaget melihat Hana yang tiba-tiba menangis.

                “Hana! Kamu kenapa menangis?” tanya June sambil memegang wajah Hana.

                “Kamu kenapa kaya gini sama aku?” jawab Hana sambil memukul tangan June.

                “Aku ga ngapa-ngapain kamu Hana.” balas June.

                “Kalo gitu jelasin sekarang, ini maksudnya apa!” bentak Hana sambil menunjukkan pesan masuk dari temannya.

                June pun bingung untuk menjelaskannya dan terbata-bata saat menjelaskan semuanya kepada Hana. Hana sangat kecewa dan marah pada June karena telah membohonginya selama ini. Hana menangis sambil meninggalkan kafe tersebut dan akhirnya putus dengan June. June marah dan kesal. Lalu June putus hubungan dengan Hana.

Jinyoung yang menyaksikan kejadian itu sangat terkejut dan merasa kasihan dengan Hana.

                Keesokan harinya Hana pergi ke kafe itu sendirian dan memesan Americano.

                “Ini pesanannya.” kata Jinyoung.

                “Terima kasih.” jawab Hana dengan nada sedih.

                Lalu Hana duduk di bangku belakang kafe dengan termenung sendirian. Jinyoung yang kebetulan sedang membuang sampah karena pekerjaan telah selesai, melihat Hana yang termenung sendirian di sana. Jinyoung pun menghampiri Hana. Hana tidak sadar jika Jinyoung sedang menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Lalu Jinyoung pun mulai menanyakan mengapa sendirian ia duduk di sana. Hana menjawab dengan nada lemah bahwa ia tidak apa-apa. Secara tidak sadar, air mata Hana mulai mengalir. Jinyoung yang melihat hal tersebut langsung memberikan sapu tangannya kepada Hana. Setelah mengusap air matanya, Hana mulai bercerita kepada Jinyoung tentang apa yang dialaminya kemarin. Hana menceritakan semuanya tentang dirinya dan June dari awal bertemu hingga kemarin. Jinyoung mendengarkannya sambil menepuk-nepuk bahu Hana dengan lembut.

                Saat menceritakan tentang apa yang terjadi tadi malam, Hana mulai menangis dan tidak bisa berhenti menangis. Akhirnya Jinyoung mencoba untuk menenangkan Hana dengan memeluknya. Hana menangis tersedu-sedu di pelukan Jinyoung. Setelah lelah menangis, Hana meminta maaf kepada Jinyoung karena sudah mengganggunya dan membuatnya bingung. Jinyoung tersenyum kepada Hana dan berkata

 

                “nggak apa-apa. Perasaan, emosi, harus dikeluarkan. Jangan selalu dipendam dan dipikirkan sendiri. Mungkin saja ada orang yang dapat membantumu dan menenangkanmu.”

“Terima kasih Jinyoung, aku tidak menyangka ternyata kamu adalah orang yang sangat baik.” kata Hana sambil membalas senyuman Jinyoung.

               Setelah satu bulan berlalu, hubungan Hana dengan Jinyoung menjadi lebih dekat dari biasanya. Secara tidak sadar, mulai muncul rasa suka Hana terhadap Jinyoung. Selama satu bulan ini, Hana pusing dan bingung karena selalu memikirkan Jinyoung.

                Suatu hari, Hana diajak Jinyoung untuk menemaninya pergi ke taman hiburan. Saat Hana datang, ia melihat Jinyoung dengan pakaian kasualnya yang keren. Hana seperti terhipnotis saat melihat Jinyoung. Jinyoung tersenyum padanya. Saat Jinyoung tersenyum ke arahnya, hati Hana mulai berdegup kencang. Hana bingung dan berpikir.

 

                Apakah ini yang dinamakan cinta?

 

 

-Tamat-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

...[selengkapnya]
The Tale of Twi Destiny by Kevin O. XII Bahasa
...[selengkapnya]
Workshop bersama Ubaya

Dalam Rangka Lustrum Ke 11 SMAK Santa Agnes, Dua Dosen Ubaya Isi Workshop (artikel ditulis oleh: Fadjar Effendi Rasyid)

Tepatnya Kamis, 11 Oktober 2018, dua dosen Ubaya ditunjuk menjadi pembicara di dua workshop berbeda yang diadakan oleh SMAK St. Agnes Surabaya. Workshop ini diadakan sebagai salah satu rangkaian acara Sosialisasi Expo Budaya dalam rangka Lustrum ke-11. Workshop ini melibatkan 600 siswa yang terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama yakni 400 siswa gabungan dari kelas X dan kelas XII, dan kelompok kedua yakni 200 siswa kelas XI. Kedua workshop ini diadakan pada jam 12:30 hingga 14:00.

Workshop pertama mengambil tema: “Motivasi Berprestasi” dan diisi oleh Dr. Dra. Setiasih, M.Kes. Psikolog., dosen dari Fakultas Psikologi Ubaya. Workshop pertama ini diwajibkan untuk anak-anak SMA kelas X dan XII. “Ini diberikan kepada kelas X dan XII karena di usia tersebut anak-anak sedang menghadapi pilihan untuk studi lanjut, baik IPA-IPS untuk kelas X, ataupun studi lanjut di perguruan tinggi,” ungkap Dra. Lusia Yekti Handayani, M.Pd., selaku Wakil Kepala Sekolah bagian Kurikulum SMA St. Agnes. Workshop ini dilakukan di Gereja Katolik Kristus Raja Surabaya yang tidak jauh dari lokasi SMA St. Agnes.

Dalam workshop yang pertama ini, Setiasih memaparkan pentingnya bagi siswa untuk membedakan antara mimpi dan goal. “Kalau mimpi itu hanya angan-angan, tapi kalau goal itu harus disertai dengan tindakan yang nyata,” tegasnya. Lebih lanjut lagi, Setiasih memaparkan pentingnya memiliki tujuan dan tidak hanya berhenti di mimpi, karena jika berhenti di mimpi manusia cenderung kehilangan arah dan tidak bertindak secara nyata. “Jika kita memiliki tujuan / goal, itu akan memberi kita fokus dan otomatis kita akan selangkah lebih dekat dalam menyelesaikan tujuan tersebut,” jelas dosen berkacamata ini.

Workshop kedua dengan tajuk utama “Aturan Penggunaan Media Sosial di Kalangan Remaja SMA” ini mengundang narasumber lain yang tidak kalah berpengalaman di bidangnya yakni Njoto Benarkah S.T., M.Sc., Direktur SIM Universitas Surabaya. Dalam workshop kedua ini Njoto menekankan mengenai pentingnya untuk bijak dalam bermedsos. “Kalau mau makan, upload dulu atau foto makannya dulu? Hayoo,” ungkapnya jahil disambut gelak tawa dari siswa. Njoto menekankan pentingnya menahan diri dalam mengupload hal-hal yang tidak perlu, karena semakin sering dan semakin detail kita upload akan semakin rentan mengalami kejahatan. Njoto juga mengungkapkan cara-cara bermedsos dengan bijak yang mudah diingat “3 point saja. Pertama: jangan alay, kedua: Jangan memprovokasi, ketiga: lebih berempati pada orang lain,” jelasnya.

Kurang lebih 600 siswa yang hadir sangat menikmati proses workshop yang diadakan. Terbukti dari jumlah siswa yang mengungkapkan pertanyaan ataupun keprihatinannya dengan narasumber sambil berdiskusi dengan dinamis. “Kedua workshopini memang termasuk dalam kurikulum yang dirancang oleh guru BK, dan berfungsi sebagai bagian dalam pembinaan khusus karakter siswa,” ungkap Lusia. Kedua tema ini sudah dirancang sedemikian rupa sehingga tepat sasaran sesuai dengan umur dan kebutuhan peserta, lantas mereka sangat menikmatinya. (sml)

 


...[selengkapnya]
Jelajah KRI

JELAJAH KAPAL KEPAHLAWANAN

HARI PAHLAWAN 2017

30 OKTOBER – 1 NOVEMBER 2017

 

<!--[if gte vml 1]> <!--[endif]-->

Hai, teman-teman! Apakah kalian pernah naik kapal? Kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya naik kapal, nih. Eitts, bukan kapal sembarangan loh! Kapal ini adalah KRI dr. Soeharso yang merupakan kapal bantu kesehatan TNI Angkatan Laut. Kapal ini terdiri dari 6 lantai dan sangat luas. Mereka bisa melakukan operasi di dalam kapal, loh! Pemandangan dari atas kapal juga sangat indah.

<!--[if gte vml 1]> <!--[endif]-->

Saya berangkat mewakili sekolah bersama dengan teman-teman saya,Victor Marcellino Liangga dan Ni Putu Kartika Paramita, serta guru sejarah saya Pak Robert Tajuddin. Perjalanan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 2017 dan diselenggarakan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia yang berkerjasama dengan TNI Angkatan Laut Armada Timur. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari 2 malam di atas kapal di selat Madura. Ini adalah kegiatan besar yang bertaraf provinsi. Peserta diambil dari 114 orang peserta olimpiade pahlawan sejarah yang dilaksanakan tanggal 18 Oktober yang lalu. 31 orang guru pendamping dari masing-masing sekolah. Ditambah dengan beberapa instansi sosial di provinsi Jawa Timur, seperti Karang Taruna, TAGANA, Pesantren, Pramuka, dan lain-lain.

 

Kami tidur di atas kapal. Jangan salah tangkap ya! Kapal ini berbeda dengan kapal yang kita naiki ketika ingin menyeberang dari Banyuwangi ke Bali. Jadi memang di kapal ini ada kamar tidurnya. Tapi, karena pesertanya ada sekitar 400 orang, jadi kamar yang ada masih kurang. Kamar perawatan juga dijadikan kamar tidur. Bagi yang putra, tidurnya di car deck, yaitu tempat parkir mobil. Tapi tidak tidur di bawah, ya! Para tentara menyediakan tempat tidur untuk mereka meskipun bukan ranjang.

 

Kegiatannya bermacam-macam. Ada pelepasan kapal oleh para pejabat TNI Angkatan Laut, bakti sosial, materi yang disampaikan oleh putra dari Bung Tomo. Bakti sosial itu dilakukan pada hari kedua di Kabupaten Bangkalan, Madura. Upacara penutupan dilaksanakan di hari ketiga di deck heli kapal dan ditutup secara langsung oleh Ibu Menteri Sosial Republik Indonesia. Kami juga sempat mengunjungi KRI Dewaruci dan Monumen Jales Viva Jaya Mahe.

<!--[if gte vml 1]> <!--[endif]-->

Foto bersama peserta dari SMA Hang Tuah Surabaya di depan KRI Dewaruci.

 

Banyak pengalaman yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Kata-kata yang paling berkesan bagi saya adalah “Hadiah terbaik bagi seorang pembicara adalah didengarkan dan dilakukan.” Kesederhanaan, kebersamaan dan sikap saling menghargai yang diajarkan melalui kebiasaan berbagi meskipun berbeda agama dan suku juga sangat berarti bagi saya. Intinya,  mengikuti kegiatan seperti ini memberikan pengalaman yang benar-benar ingin saya terapkan dan juga bagikan.

 

Selain mendapatkan ilmu mengenai bela negara, kami juga mendapatkan banyak pengalaman baru, kenalan baru, bisa juga cuci mata, dapat sangu pula! Bebar-benar seru loh! Jarang-jarang ada kegiatan seperti ini. Sungguh kesempatan yang tak kan terlupa!

 

Nah pesan dari kegiatan ini bagi kita sebagai pemuda zaman ini adalah bahwa kita harus bisa menjadi sumber pengaruh yang baik agar bisa memajukan Indonesia. Masa depan negara Indonesia terletak di tangan kita sebagai kaum muda penerus bangsa. Melalui kegiatan seperti ini kita bisa menyadari hal-hal tersebut. Semoga dengan sharing pengalaman saya ini, kalian terinspirasi untuk mengikuti kegiatan seperti ini.

(Imelda Juliana, XI Bahasa)

...[selengkapnya]
Puisi Vania Ozora XII Bahasa

Kelabu di Antara Biru

 

Manik pekatmu terasa pudar hari ini,

Ujarku padamu, “ baik – baik sajakah  dirimu?”

 

Putihmu menjadi abu –abu

Merahmu tiba – tiba menjadi hitam

Dan guratan biru milikmu terkontaminasi menjadi kelabu

 

Bibirmu berujar  mengenai sesuatu yang menyedihkan

Dan aku tersentak akannya

 

Seperti cakrawala senja yang mendengarmu

Rembulan yang berjalan dari kediamannya, merintih akanmu

 

Kau,

Sahabatku

 

Kita memang kelabu di antara biru

Namun kita bersama dan akan selalu seperti itu

Kita memang kelabu di antara biru

Yang sendu akan situasi

 

 

Kau dan aku adalah satu

Kita telah menyatu

Dalam hujan dan tawa sang surya

Dalam awan dan kepergiannya

 

Kau,sahabatku

 

Aku ingin berkata padamu,

“ aku sungguh mengasihimu”

 

 

 

Kelabu di Antara Biru

Vania Ozora

XII Bahasa

...[selengkapnya]
Puisi Pluto oleh Santa Neke XII Bahasa

Pluto

Santa Neke

XII Bahasa

 

Kau dapat dengan mudahnya membuat diriku berpikir bahwa kau adalah pusat dari galaksi Bima Sakti ini

Kau bagaikan matahari yang merupakan pusat nya

Dan aku bagaikan pluto yang tak dianggap

Aku jauh dari kehangatanmu

Aku jauh dari ruang lingkupmu

 

Aku berbeda dari merkurius yang sangat dekat denganmu

Sang merkurius yang dapat berbagi suka dan duka bersama

Sang merkurius yang dengan mudahnya mendapatkan kehangatanmu

Sang merkurius yang selalu ada dan menemanimu

 

Aku ingin bercerita kepada para bintang

Betapa tak adilnya alam ini

Tetapi ku tak mempunyai cukup keberanian

Aku ingin bercerita kepada para satelit

Mengapa alam sungguh tak adil kepadaku

Tetapi lagi-lagi aku terlalu takut untuk itu

 

Pada akhirnya aku hanya menyimpan semua ini untuk diriku sendiri

Pada akhirnya aku, pluto yang kesepian ini akan selamanya sendiri

Dan pada akhirnya aku, sang pluto ini akan terus mencintai sang matahari dengan tulus

walau sampai kapanpun tak akan pernah terbalaskan

...[selengkapnya]
Cerpen Vania Ozora XII Bahasa

Serpihan Dunianya

 

Vania Ozora / XII Bahasa

SMAK Santa Agnes

 

??

Ada setitik cahaya di ujung jalan yang menyilaukan maniknya. Semakin dekat, semakin dekat, membuat kelopaknya menutup lebih rapat. Tanpa ia sangka, tubuhnya terguyur genangan air hujan di tengah jalan. Cahaya yang menyilaukan maniknya itu telah hilang melewatinya. Lalu, ia terdiam di sana.

??

Cakrawala tersenyum cerah ke arah gadis kecil di ujung sana, surya menghangatkan puncak kepalanya, embusan udara mengusap kulit miliknya dengan lembut, dan maniknya tak melihat apapun. Hanya mendengar dan merasakannya.

??

Langkahnya menggebu - gebu menuruni jalan bebatuan di sana, dengan segenggam kelopak lotus. Rerumputan mengkhawatirkannya, dedaunan mengiringi langkahnya. Air bercucur dari pelipis kepalanya dan dirinya terjatuh di hadapan kediamannya sendiri. Ia sudah terjatuh sebanyak tiga kali, namun ia bangkit sebanyak empat kali. Segenggam kelopak lotus dan dirinya melewati gerbang kayu di sana dengan secercah harapan yang tercurah pada perasaannya.

??

Seorang pemuda bermantel marun mengayuh sepeda tua itu dengan sekuat tenaga. Menuruni jalanan di sana, hingga dirinya terjatuh dan membuat pergelangan kakinya terkilir. Tetapi, ia kembali berdiri dan berlari. Dengan sebuah cangkir tua berwarna putih kusam. Ranting pepohonan terisak padanya, kumbang di atas pohon kini terbang menemaninya. Sebuah padang rumput luas tampak pada irisnya. Langkah terseok - seoknya menjamah ilalang di sana dengan kebahagian dan bulir air yang menetes dari pelupuk matanya. Embusan udara bersorak sorai padanya dan rembulan mulai menampakkan dirinya.

??

Dirinya masih terdiam di sana. Genangan air hujan yang baru saja mengguyurnya seolah membuat sesuatu yang baru dalam hidupnya. Maniknya, manik kelabu itu melihat semuanya. Semua itu. Serpihan dunianya.

 

- Kelabu yang menghapus hitam

Kelabu yang menghapus putih

Kelabu yang menunjukkan segalanya -

Tamat 

...[selengkapnya]
PUISI Lucky Aditya Nugroho XII Bahasa

Indonesia

 

Indonesia

Bukan soal ras, suku, ataupun agamanya

Bukan tentang pribumi maupun kepribadian

Indonesia itu persatuan

 

Indonesia

Bukan persoalan tentang reklamasi ataupun organisasi

Bukan juga tentang intimidasi dan provokasi

Indonesia itu demokrasi

 

Indonesia

Burung Garuda - Pancasila adalah Lambang dan Dasar negara

Bhinneka Tunggal ika semboyannya, dan

UUD'45 hukumnya

 

 

Kita terlahir dengan suatu perbedaan

Perbedaan yang saling melengkapi

Bukan untuk membebani, ataupun

Diskriminasi

 

Kita terlahir di negara demokrasi

Dimana rakyat harusnya berdaulat

Bukan saling terjerat emosi, hingga

Bergulat

 

Kita adalah kesatuan

Yang membuat sebuah perubahan

Yang membawa kemajuan

Untuk menggapai angan-angan

 

 

Lucky Aditya Nugroho

XII Bahasa

...[selengkapnya]
Renungan

"Aku cuma bisa sampe jam 4 aja ya soalnya travelku jam 5"
"Mau kemana kamu?"
"Ya pasti pulang lah" (dijawab sama orang lain)
"Hadu, pulangan kamu"
_________
"Seru banget ya kemarin"
"Hah? Apa?"
"Dia kan gaikut. Jadinya gatau"
"Oh iya sih. Makanya jangan pulang mulu!"
__________
Sampai sekarang, saya masih belajar. Belajar untuk tidak mengejek, memojokkan, atau menyalahkan.

Saya berusaha memahami bahwa
mereka yang pulang, mungkin memang butuh pulang.
Butuh makan masakan ibu,ceramahnya ayah, tengilnya kakak, atau mungkin ejekan adiknya. Mereka butuh untuk sekedar 'melihat' dan mungkin tertawa lepas dengan semua keluarganya.

Selama mereka tidak merepotkanmu, selama mereka  masih meluangkan waktu mengerjakan tugas kelompok diantara quality time bersama keluarganya, selama mereka tidak lupa bahwa senin pagi harus kembali kuliah, selama itu juga, kalian tak perlu risau.

Cobalah untuk ada di posisi orang tuanya, 

"Bu, dedek kok belum pulang ya? Udah sebulan, ayah kangen nih"

Atau cobalah untuk ada di posisi adik kecilnya,

"Kakak kok belum pulang ya? Biasanya kalo ada PR kayak gini aku nanyanya sama kakak"

Mungkin mereka bisa komunikasi melalui handphone, tapi jelas rasanya akan berbeda dengan pertemuan secara langsung.

Terkadang kita merasa mereka anak mama, anak manja dsb, tapi pernahkah kalian tau betapa senangnya orang tua mereka melihat kedatangan anaknya?

Sebuah kisah datang dari sepupu saya, yang saat itu merantau untuk melanjutkan pendidikan. Ia bercerita bahwa sejak beberapa bulan sebelumnya, ibunya meminta untuk dia pulang, karena ayahnya  sedang sakit. Namun, sepupu saya berpikir  bahwa ayahnya akan sembuh, selain itu ia masih disibukkan dengan urusan pendidikannya hingga akhirnya ia menerima kabar bahwa Tuhan telah memanggil ayahnya. Sungguh, penyesalan yang amat dalam ia rasakan. Bahkan di detik detik terakhir ayahnya, ia tak sempat menemani.

Lain cerita, guru saya mengatakan bahwa karena perpisahan kedua orang tuanya membuat beliau harus menahan rindu untuk bertemu ayahnya selama 2 tahun.

Setelah 2 tahun, beliau dan ayahnya bisa bertemu. Beliau berkata bahwa ayahnya sangat senang dan berterimakasih padanya karena mau bertemu lagi dengan ayahnya. Namun tak disangka kalau pertemuan itu menjadi pertemuan terakhir dengan ayahnya, karena 2 minggu setelah pertemuan itu, ayah beliau wafat.

Begitulah, tak ada yang tahu Rencana-Nya dan sekarang saya paham, bahwa pulang ke rumah adalah sebuah keistimewaan. Maka selagi bisa, pulanglah. Jangan biarkan penyesalan- penyesalan selanjutnya datang.

Saras Dwi Anugrah P.K.  Jurnalis MOST Lulus tahun 2015

 

...[selengkapnya]
Surat untuk Mama (Calvin Christian X - 8)
Surat untuk Mama ini mendapatkan Juara III pelajar SMA se Surabaya. 
...[selengkapnya]
 1 2 > 
Jumlah Pengunjung:

© 2013 StAgnes WEB - Powered by iSTTS